"Edan" Tukang Bakso, Nyambi Jualan Sabu

Pasuruan, JA-Pos News – Wajah Karnawan (27) warga Dusun Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan tampak lemas.

Ia hanya bisa tertunduk di balik kerpus atau penutup wajah yang dikenakannya. Dia merupakan satu dari dua tersangka kepemilikan sabu – sabu yang diamankan Satresnarkoba Polres Pasuruan, Minggu (18/3/2018).

Karnawan ditangkap polisi di rumahnya. Kini, ia dibui di kantor polisi. Dari rumah tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti sabu, dengan rincian, 7,22 grm, 5,21 grm, 5,20 grm, 0,99 grm, 0,39 grm dn 0,32 grm.

Jika ditotal, sabu yang diamankan dari rumah Karnawan ini sebanyak 19,33 gram. Jika diuangkan, tersangka menyimpan sabu siap jual senilai Rp 20 juta lebih.

Dia bekerja sebagai penjual bakso setiap harinya. Setiap pagi, ia sibuk memasak bakso di rumahnya. Siang hari, ia keluar dari rumahnya dan berkeliling menjual bakso.

Biasanya, ia sering menjual baksonya ini di kawasan Pandaan dan Prigen. Menjelang tengah malam, ia biasanya sudah pulang ke rumahnya.

Namun, siapa sangka, di balik keluguan dan kepolosan Karnawan ini, dia bukan sebatas penjual bakso biasa. Ternyata, jualan bakso ini hanya untuk menutupi kedoknya saja.

Selain bisnis bakso, Karnawan juga bisnis sabu-sabu. Ia menjual bakso itu hanya untuk mengelabuhi bisnis hitamnya tersebut.

“Saya baru jualan sabu empat bulan mas. Sebelumnya, saya murni jualan bakso saja,” kata Karnawan.

Dia mengaku, sabu-sabu itu biasanya dijual ke para pelanggannya. Ia mengaku sudah memiliki pelanggan di kawasan Pandaan dan Prigen.

Untuk transaksinya, ia mengaku biasanya menjual sabu sekaligus menjual bakso tersebut. “Jadi misal ada yang butuh sabu, biasanya menghubungi saya. Selanjutnya saya antarkan ke tempatnya sembari membawa rombong bakso. Nah, pembeli biasanya beli bakso dulu, terus barangnya saya selipkan di bawah mangkok bakso,” tambahnya.

Uangnya biasanya dikirimkan melalui rekening pribadi. Ia mengaku mendapatkan pasokan sabu itu dari temannya di Sidoarjo.

Per satu gramnya, ia mendapatkan harga Rp 1,2 juta. Biasanya, setiap satu gram, ia jadikan 10 paket hemat (pahe) dengan masing-masing beratnya 0,10 gram.

“Setiap satu gram, biasanya saya dapatkan untung Rp 300.000 – Rp 500.000. Kadang saya juga ikut nyubit sabunya sedikit,” jelasnya.

Ia mengaku terpaksa menjual sabu ini dan menyadari hasil menjual bakso ini tidak menentu. Kata dia, jual bakso kurang menjanjikan, dibandingkan jual sabu. Dia menyebut, menjual sabu lebih menjanjikan dengan keuntungan yang besar.

“Saya ingin mendapatkan uang banyak, saya ingin bisa membayari hutang saya, dan saya juga ingin hidup enak. Saya jualan loh belum lama, baru empat bulan ini, setelah ada tawaran dari teman saya,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *