Kemeriahan Pesta Pernikahan di Sambisari dengan Suguhan Kesenian Kuda Lumping

29 views

Surabaya, JA-Pos News – Pernikahan di Indonesia umumnya dilakukan secara tradisional. Setelah memilih tanggal, bulan, dan tahun yang dianggap baik, pasangan pengantin yang ingin menikah akan segera menggelar resepsi pernikahan.

Hiburan pesta pernikahan masyarakat yang sangat ditunggu dan disambut penuh dengan suka cita, dari anak-anak hingga orang dewasa. Hiburan yang tersedia pun beragam mulai dari hiburan khas masyarakat setempat hingga hiburan yang modern yang masuk ke daerah apapun hiburannya, satu hal yang sama yakni tujuannya sang pemilik hajat ingin berbagi kebahagiaannya dengan membuat masyarakat terhibur.

Berbagai kesenian tradisional masyarakat Jawa, khususnya Kuda Lumping, sampai saat ini masih tetap eksis di seluruh kota maupun didaerah kota palembang.

Hal ini terbukti dengan pertunjukan Kuda Lumping yang berlangsung pada acara pernikahan Sucandra Irawan Edi Purwanto dan Yuni Astuti Dwi Ariyanti di desa Sambisari 2/31 Kelurahan Lontar Kecamatan Sambikerep, Surabaya yang berhasil menarik ratusan pasang mata penonton, baik anak-anak, muda-mudi ataupun tua, Rabu (11/07/2018).

Menurut Djuliadi selaku penasehat di Jaranan Campur Sari Turonggo Jati Saputro memaparkan, ditengah-tengah gempuran hiburan modern lainnya, salah satunya internet, atraksi atau jaranan Kuda Lumping tetap ada pada zaman ini, dan tidak kalah bersaing dengan beragam hiburan yang baru.

Masih kata Djuliadi yang biasa disapa Mbah Doel, Kuda lumping adalah tradisi aksi, gerak dan lagu yang menunjukkan keheroikan seseorang dalam atraksi diselingi dengan tari dan diringi dengan lagu. Penonton yang merupakan warga masyarakat sekitar sekaligus tamu undangan pernikahan menikmati setiap tari, irama musik dan tontonan yang membuat mereka takut, penasaran dan mengundang decak kagum.

Di bawah bimbingan dari Lutfi, Jaranan Campur Sari Turonggo Jati Saputro. Dengan diiringi tabuhan dari kendang, gong, tiupan seruling, dan alat musik tradisional lainnya, menghasilkan suara yang sangat khas. Disertai dengan aroma kemenyan yang telah dibakar sebagai salah satu persyaratan digelarnya Kuda Lumping.

“Kesenian tradisional yang ada di negara kita tetap dipertahankan dan dilestarikan, termasuk kesenian Jawa, Kuda Lumping. Sebab, kesenian tradisional merupakan aset seni budaya bangsa Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia wajib melestarikan seni dan budaya yang telah diwariskan nenek moyang kita”, Kata Mbah Doel.

Sambungnya, “Meski kami sudah puluhan tahun menetap dan sudah menjadi warga Sambisqri, tapi kami tetap konsisten untuk melestarikan berbagai seni budaya masyarakat Jawa di daerah ini.

“Semoga hiburan tradisional tetap dilestarikan untuk menghibur masyarakat, sehingga anak cucu kelak tetap dapat turut terhibur dengan hiburan pesta rakyat dan seni budaya peninggalan nenek moyangnya, agar tidak hilang ditelan zaman serba canggih sekarang ini”, harap Mbah Doel.

Menurut pantauan dalam acara ini, ratusan warga melihat atraksi kuda lumping lebih dekat. Beberapa penjual makanan juga merasa sangat senang. Selain dapat hiburan gratis, mereka juga terbantu secara ekonomi, karena dapat meraup rezeki pada momen tersebut. (Eko Hidayat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *