Atraksi Pecut Komunitas Cemeti Surabaya (KCS) Pagi Hari

Surabaya,JA-Pos News,-Untuk mengingat kembali tradisi yang dulu pernah ada itu, para pemuda komunitas cemeti surabaya (kCS) yang di komandoi oleh kang widhu kelahiran kota blitar sekarang tingal di simo rejosari. Kegiatan atraksi main pecut sudah di geluti sejak masih mudah. Dia mengajak pemuda pemuda yang hobi atau suka dengan seni jaran kepang yang mau menyalurkan hobinya.

Kang widhu selaku ketua memaparkan, agar tidak membuat lecet, pada bagian pangkal atau yang dipegang dilapisi karet dan kain yang lembut yang dibungkus dengan lakban. Untuk menghasilkan kualitas suara yang keras dan cetar, saat merangkai pecut juga harus padat dan bagian ujungnya dibuat sekecil mungkin. Pecutnya digunakan untuk menghasilkan suara yang keras, bukan bertujuan untuk kekerasan, katanya.

Minggu (13/12/2020) awalnya dia merangkai tali rafia yang dilapisi dengan potongan kain bekas. Permukaan besarnya pecut tersebut disesuaikan, untuk bagian pangkal atau yang dipegang terbuat dari aluminium dan dililit menggunakan tali rafia hingga mengecil di bagian ujung. Khusus pecut yang dibuatnya tersebut memiliki panjang sekitar empat hingga lima meter, tegasnya

Arib dan suwela yang ikut komunitas cemeti surabaya (KCS) mengatakan, untuk kembali menghidupkan tradisi main pecut tersebut memang tidaklah mudah. Butuh perjuangan keras. Bermula dari tekad yang bulat, bersama komunitas dia mulai membuat sebuah pecut dengan bahan tali rafia yang dililit dan dilapisi kain bekas. Untuk membuat pecutnya saja butuh waktu sekitar tiga hari, karena memang ukurannya panjang dan besar,” ungkapnya.

Suwela menjelaskan, caranya juga cukup unik, mereka menenteng sebuah pecut atau cemeti. Panjang cemetinya bervariasi, mulai tiga meter hingga sekitar empat meter. Pecut yang dibawa para komunitas cemeti surabaya (KCS) rata hampir sama panjangnya, berfariasi dari warna berat pecut yang digunakan atau mainkan oleh pemuda dari komunitas cemeti surabaya. Pecut yang dibawa tersebut adalah pecut khusus yang dibuat untuk pertunjukan seni main pecut.

Lanjut suwela, teknik memainkan pecut tersebut juga tidak mudah. Tidak sembarang orang bisa memainkan hingga mengeluarkan bunyi cetaaar. Kalau pemula yang baru awal latihan bisa dipastikan akan mengenai tubuh, terutama kaki. Kalau sudah terbiasa akhirnya juga tahu selanya, terangnya.

Tak jarang, orang tua yang dulu pernah mahir memainkan pecut juga ikut terjun dan kembali memainkan. Bahkan, karena sudah lama tak bermain, sesekali pecut juga menghantam tubuh dan kaki. Kami berupaya untuk kembali melestarikan tradisi pecut ini. Karena tradisi ini merupakan awal cikal bakal untuk jaranan, jadi sangat miris kalau sampai tradisi ini punah dan tinggal cerita saja, jelas arib tambahnya.

Dia berharap permainan pecut tersebut kembali dilestarikan. Karena tidak hanya bermain pecut tersebut. Akan tetapi juga ada jenis permainan pecut yang saling beradu dan berhadap-hadapan. Kami tengah berupaya kembali menggairahkan, agar tradisi jaran kepan dan bermain pecut tidak punah, di lestarikan agar sejajan saya bisa ikut memainkanya, tegasnya. (Yudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *