Diduga Buntut Mafia Tanah, Massa Unjuk Rasa Di Depan Kantor ATR/BPN Gresik

86 views

Gresik, JA-Pos News – Sejumlah massa dari Genpatra (Gerakan Pemuda Nusantara) melakukan aksi unjuk rasa desak basmi praktek mafia pertanahan di depan kantor Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Gresik, Jalan. DR. Wahidin Sudiro Husodo No.234, Kecamatan. Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur terus berkelanjut. Kamis (27/10/2022).

Nampak jelas, massa sambil berteriak dan sebagian berorasi yang tergabung Aliansi warga berantas mafia tanah, dalam aksi tersebut mendesak Kepada Kepala BPN Gresik, Asep Heri segera dicopot.

Dalam orasinya massa menuding bahwa ada praktek mafia tanah di BPN Gresik. Kasus tanah salah satunya milik warga bernama Sueb Abdullah yang terletak di kawasan industri JIIPE Manyar Gresik tersebut telah di ajukan sertifikat ke BPN Gresik sejak 6 tahun silam.

Orasi yang disampaikan, “Saya rakyat kecil, kembalikan sertifikat rakyat, copot bapak Asep Heri,” ucap salah satu orator.

Hingga saat ini sertifikat milik Sueb Abdullah tidak diterbitkan dengan alasan tidak jelas. Aparat penegak hukum segera memberantas mafia tanah yang berada di ATR/BPN Gresik.

Totok Susanto Selaku Perwakilan Warga Korban Diduga Mafia Tanah
Totok Susanto Selaku Perwakilan Warga Korban Diduga Mafia Tanah

Semetara dugaan mafia tanah di ATR/BPN Gresik, restorasi pelayanan BPN, transparansi layanan program PTSL dan recovery pasca tambang di Gresik, rakyat meminta transparan dan secara adil, kembalikan tanah untuk rakyat.

Totok Susanto perwakilan warga korban diduga mafia tanah mengatakan, “Aksi hari ini yang dilakukan menyikapi aksi yang sebelumnya, jadi aksi yang kemaren ada mediasi akan tetapi memang dari ATR/BPN Gresik tidak punyak komitmen yang kuat untuk menyelesaikan apa yang jadi tugas mereka,” tandas Totok Susanto.

Masih lanjut Totok Susanto, “Yang perlu digaris bawahi pada aksi kali ini adalah, bentuk sebuah keperihatinan kami terhadap apa yang telah terjadi di kantor ATR/BPN Gresik yang penuh sarang mafia tanah, sudah kami ungkapkan kemaren bahwa salah satu bukti emang kantor BPN Gresik memang dikuasai oleh mafia tanah adalah. Klayen kami sudah mendaftarkan tanah sejak tahun 2016 akan tetapi sampai saat ini tidak ada cundrungnya.” papar Totok Susanto.

Lebih lanjut Totok Susanto menyampaikan, “Hingga banyak yang melaporkan kepada kami, jadi saya harap ada tindakan yang kongkrit dari kantor ATR/BPN Gresik apabila Bapak Dirjen sudah saatnya untuk datang ke Gresik atau langsung bisa bertindak tegas atau memberikan sanksi bagai mana kemudia peran-peran atau pelakon-pelakon harus diberi sanksi yang berat,” ujarnya.

BPN Gresik hanya mengolor waktu dan mempermasalahkan data dari Totok Susanto dan data tersebut masih tersimpan di kantor ATR/BPN Gresik sejak tahun 2016. Sayangnya, masih belum bisa di proses, dari Totok Susanto rencana kedepan tanggal 2 akan melakukan aksi kembali di kantor ATR/BPN Gresik.

“Sesegera mungkin pak Kakanwil dan Pak Dirjen sekaligus Bapak Mentri, kalau memang tidak berani bertindak tegas mafia-mafia tanah yang ada di sini, maka di bubarkan saja. Justru disini ATR/BPN Gresik ambigu, ia sudah menerima pendaftaran kami dan kami sudah membayar sesuai SOP yang ada di kantor ATR/BPN, dan anehnya lagi BPN tidak berani tindak tegas karena corporate yang tadi mengajukan keberatan tidak bisa mendaftar,” ungkapnya.

Sedangkan Totok Susanto berpegang teguh pada pendaftaran tanah milik klayen, di dalam berkas terdapat putusan PN dan MA yang sudah ingkra pada tahun 2017. Saat ini tanah di kuasai corporate dan tambak milik klayen sudah di uruk, hasil mediasi waktu kemaren BPN hanya menjebak pada persoalan menunjukan tanda batas.

“Totok Susanto menjawab ketika mediasi pembatas, siapapun tidak akan bisa menunjukan batas-batas, karena batas-batas itu sudah di hilangkan oleh corporate tersebut, namun corporate beli di perorangan berinisial SH. Untuk keluasan tanah kurang lebih 3,5 hektar.” tutup Totok Susanto selaku perwakilan warga. (Fir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *