Gulat Okol Masih Dilestarikan Warga Beringin Dalam Memeriahkan Acara Sedekah Bumi
0 Komentar 326 pembaca

Gulat Okol Masih Dilestarikan Warga Beringin Dalam Memeriahkan Acara Sedekah Bumi

Hiburan

Surabaya, JA-Pos News - Tradisi gulat (okol) masih dijaga oleh warga Dusun Sawo RW 02 Kelurahan Bringin Kecamatan Sambikerep Surabaya hingga saat ini, Tradisi unik itu masih melekat pada masyarakat sekitar.

Seusai panen dan pada musim kemarau mereka menggelar sedekah bumi dengan Gulat, tayuban, remo kaulan dan selanjutkan dengan kesenian ludruk Karya Budaya.

Gulat tradisional yang oleh warga setempat disebut okol, gulat okol menjadi agenda rutin tahunan dan menjadi bagian dari wisata budaya

Warga sawo juga membuat tumpeng yang terbuat dari hasil bumi terdiri-dari berbagai makanan, buah-buahan, sayuran, serta umbi-umbian, selain itu masih ada tumpeng-tumpeng lain berisi nasi, lauk ayam bakar atau telur dadar dibawah kebalai RW 02 Dusun Sawo dikumpulkan, tumpeng itu bakal menjadi rebutan warga, warga yang mendapat bagian isi dari tumpeng milik tetangga akan membawanya pulang dengan keyakinan rezekinya akan semakin mengalir.

Ritual gulat okol ini dahulunya dilaksanakan diarea persawahan becek oleh lumpur yang terkena hujan, namun di era moderen gini gulat okol digelar dipanggung dengan memakai matras dari karung goni yang pada bagian bawahnya diletakan jerami demi keamanan pegulat, selain meneruskan tradisi kini gulat okol juga menjadi atraksi hiburan.

Dua pegulat dibedakan dengan ikat kepala serta sabuk warna merah dan hitam, setiap pegulat melaksanakan dua ronde gulat, yang menang dua ronde berturut-turut akan diadu lagi dengan pemenang lain hingga didapatkan juara, gulat kali ini dibagi tiga kategori yakni anak-anak, remaja, pria wanita dan dewasa.

Tradisi gulat okol di Dusun Sawo RW 02 yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu tetap dipertahankan hingga kini, sebagai kiasan budaya dan tradisi, tradisi okol merupakan kebiasaan turun-temurun.

Selain itu juga ada wasit pertandingan yang disebut belandang. Ada juga belandang yang berperan sebagai tukang pijat untuk melemaskan otot-otot dan memberikan pengarahan cara bergulat yang benar, belandang lain mengikat ikat kepala dan sabuk milik pegulat, belandang mengunakan kaos loreng merah putih celana hitam dan ikat kepala.

Saat bergulat pegulat pria bertelanjang dada, siapa yang berhasil menjatuhkan lawan lebih dulu dinyatakan menang jika sama-sama terjatuh kedua pegulat dianggap tosan yang berarti seri tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, kesenian gulat diiringi gamelan berirama ludruk sehingga menambah semarak suasana, ratusan warga menonton dipinggir panggung menyoraki pegulat yang mengadu kekuatan.

Pada gulat okol minggu (9/9/2018) anak remaja putra-putri serta ibu-ibu dan bapak-bapak dari desa-desa lain dan kota-kota lain ikut menjadi peserta, kali ini yang menang mendapatkan bingkisan dari Abah Yunus selaku toko masyarakat yang sekarang jadi caleg DPRD dapil 5 surabaya dari partai Demokrat sekaligus penyandang dana, yang kalah mendapatkan uang tunai 50.000 dan yang menang mendapatkan 100.000 untuk pegulat kaum hawa atau wanita dan yang laki-laki mendapatkan kaos.

Abah Yunus memaparkan tradisi okol merupakan upaya melestarikan budaya tradisi gulat tradisional dan sebagai contoh remaja-remaja diera modernisasi untuk meneruskan, melaksanakan warisan nenek moyang untuk meluruskan keakraban, pertemanan dan persaudaraan antar pegulat.

Sertu Ponirin selaku Babinsa setempat menambahkan, adat-istiadat atau hiburan gulat ini harus selalu dilestarikan untuk turun-temurun nantinya, dikarenakan Dusun Sawo Kelurahan Bringin dulunya pada tahun era 1990 an bisa mengirim dua pegulat untuk mewakili dikelas Walikota Sudirman dulu.

Aji Siswarno selaku sebagai ketua RW 02 menambahkan sedekah bumi ini juga dihadiri oleh Camat, Lurah, Kapolsek, Danramil, dan seluruh warga Dusun Sawo RW 02 yang terbagi 5 RT.

Aji siswarno juga mengucapkan terimakasih atas antusias warga Dusun Sawo yang turut memeriahkan acara sedekah bumi ini.

Dalam tradisi ini yang paling penting ungkapan rasa syukur atas rezeki, kesehatan dan hasil bumi yang diterima petani, tradisi gulat okol merupakan upaya melestatikan budaya warisan leluhur yang sudah berlangsung ratusan tahun, katanya.

Wartawan : Hadi/Ponidi
Editor : Eko Hidayat

Author

JA-Pos News
Profil JA-Pos News

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top