Sedekah Bumi, Kirab Gunungan Tumpeng di Sukomanunggal Berlangsung Meriah

15 views

Surabaya, JA-Pos News – Budaya nusantara di Indonesia ini masih kental, walau kini perlahan terkikis oleh era modern. Masih terasa tradisi budayanya, yang mensyukuri atas hasil bumi yang melimpah dengan kegiatan yang biasa kita sebut Sedekah Bumi (Ruwatan Bumi) atau dalam bahasa jawa Tegal Desa (Tegal Deso).

Ratusan warga RW 2 yang terdiri dari 7 RT Kelurahan Sukomanunggal Kecamatan Sukomanunggal Kota surabaya menggelar ritual tradisi Sedekah Bumi. Diawali dengan melakukan kirab gunungan tumpeng sebagai persembahan masyarakat.

Dengan membawa berbagai uborampe persembahan masyarakat yang diikuti gunungan besar berupa tumpeng yang berisi buah-buahan, serta tumpeng polowijo dan sayur-sayuran yang semua merupakan hasil bumi para petani setempat.

Seusai acara, warga memperebutkan tumpeng yang terbuat dari berbagai hasil pertanian. Ritual ini berbagai cara dilakukan oleh warga sebagai mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan.

Gunungan ini dikirab oleh warga dengan bersusuah payah karena harus menempuh dengan jarak satu kilometer untuk menuju punden makam Mbah Gantia yang bertempatkan dipemakaman Dermo Jalan Sukomanunggal Surabaya.

Selesai arak-arakan, gunungan tumpeng yang dibawa 7 RT dikumpulkan di lapangan makam Mbah Gantia dan kemudian didoakan sesepuh desa setempat, mereka memanjatkan puji syukur kepada Tuhan. Dalam doa warga berharap agar seluruh masyarakat RW 2 Sukomanunggal selalu diberikan keselamatan.

Usai berdoa, ratusan warga memperebutkan seluruh gunungan tumpeng Mereka memperebutkan tumpeng yang terbuat dari berbagai hasil pertanian, yakni, ketela, pisang dan berbagai jenis sayur mayur dan buah-buahan.

Menurut Waras, selaku Ketua Panitia acara ini, sedekah bumi merupakan ritual tradisi pada setiap tahun, warga menggelar acara ini sebagai wujud syukur dan memohon berkah dari Tuhan yang Maha Esa.

Tradisi ini untuk berterima kasih, bersyukur atas berkah yang diberikan oleh tuhan yang maha esa berupa hasil bumi yang memakmurkan masyarakat. “Kegiatan Tegal Deso diisi berbagai acara, seperti membawa gunungan tumpeng dan buah buahan yang dikemas semeriah mungkin.” Terang Waras.

Menurut Suwaji selaku Ketua RW 02, Minggu (01-07) memaparkan, Tradisi ini bagi masyarakat penganut kepercayaan tertentu dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan agar orang terbebas dari segala macam kesialan hidup dan nasib buruk. Bagi yang percaya, ruwatan adalah sebuah upaya membersihkan diri dari sengkala dan sukerta (dosa dan sial) akibat perbuatan jahat diri sendiri, orang lain maupun akibat gangguan mahluk halus.

Silih bergantinya waktu dan pemahaman manusia serta toleransi diantara warga masyarakat menjadikan acara sedekah bumi tetap eksis menjaga tradisi. Sedekah bumi yang merupakan wujud syukur kepada Tuhan mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah sebagai tempat silaturahmi dan berkumpul warga, tidak setiap waktu bahkan diri kita mampu untuk berinteraksi terhadap seluruh warga desa. Baik karena kesibukan ataupun karena keterbatasan waktu dan tempat, imbuh Suwaji.

Menghargai leluhur, inilah yang seringkali lupa “tambah Ketua RW”. Dengan mengenal tradisi sedekah bumi maka kita secara tidak langsung berupaya untuk menghargai ide dan gagasan para leluhur, bukannya sebaliknya yang mengajarkan kemungkaran, kerusakan ataupun ketidak tenangan di bumi nusantara. Sedekah bumi ada dan akan tetap di jaga dari generasi tua hingga muda. Keberadaanya mampu menjadi spirit warga untuk tetap bekerja dan berkarya. Melalui tanda syukur menjadikan manusia ingat atas keterbatasan kemampuannya serta makin taat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tetap semangat dan teruslah berkarya. (Defi Prasetyo Utomo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *