Depresi Pasca Cerai Dengan Suami, Seorang Ibu Tega Sekap Anak-anaknya

20 views

Malang, JA-Pos News – Seorang ibu di Desa Sudimoro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang tega menyekap tiga putrinya selama berbulan-bulan. Aksi wanita berinisial ALK (47) ini ketahuan karena laporan tetangganya ke pihak berwajib.

Warga mengaku curiga karena ketiga anak ALK, KN (13), ZS (11) dan DNZ (6) tak pernah terlihat keluar rumah, apalagi sekolah. Ketiga anaknya hanya diperbolehkan bermain di dalam kamar saja.

Dari laporan tersebut, polisi, jajaran kecamatan, Koramil, Dinas Sosial, perangkat desa akhirnya mendatangi rumah ALK. Mereka terkejut karena ALK benar-benar mengisolasi anak-anaknya dari dunia luar.

“Rumah ditutup rapat, seperti sengaja dilakukan ibu dari tiga anak itu agar tak bisa keluar,” ujar Supari.

Selain itu, ketiganya tetap diberi makan namun seadanya. Makan seadanya membuat berat badan ketiga putrinya pun turun dratis.

Tak hanya itu, kondisi rumah ALK pun seakan tak terawat. Rumput-rumput di depan rumah dibiarkan tumbuh tinggi.

Bahkan proses pembebasan ketiga anak ALK juga sempat alot karena ibu ini mengancam akan memukul dengan balok kayu jika anaknya dievakuasi.

“Ada dugaan begitu (gangguan jiwa, red) dan kini sudah dibawa ke RS Jiwa Porong untuk dilakukan observasi,” ujar Kapolsek Bululawang AKP Supari.

ALK diduga mengalami depresi setelah bercerai dari suaminya, RM tiga tahun lalu.

Bagi warga, sikap ALK mengurung putrinya bukan rahasia umum. Semua warga mengetahui dan memang menanggap wanita itu mengalami gangguan mental, pasca bercerai dengan suaminya.

“Memang tak pernah terlihat mereka keluar. Kami warga tak mau terlalu jauh menanyakan, takut ibunya (ALK) marah,” tegas salah satu warga, Imam.

Setelah ALK dibawa ke rumah sakit, ketiga putrinya diserahkan kepada sang ayah yang ternyata tinggal tak jauh dari rumah yang digunakan untuk mengurung anak-anak ini, hanya sekitar 150 meter saja.

RM mengaku lega, ketiga putrinya bisa dikeluarkan. Dan nantinya mereka bisa melanjutkan sekolah lagi. “Saya itu hanya maunya mereka bisa sekolah. Yang dua masih di MI (Madrasah Ibtida iyah), yang paling besar sudah lulus tapi tak melanjutkan,” ujarnya.

RM mengaku telah bercerai dengan ALK sejak empat tahun lalu. Selama itu, ketiga putrinya dipaksa untuk tinggal bersama ibunya. RM sendiri bekerja sebagai guru dan bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selama berpisah, RM bukan tidak pernah menghiraukan ketiga anaknya. Hampir setiap pekan dirinya bertandang ke rumah ALK, khusus untuk memberi makanan bagi anak-anaknya.

“Memang rumah ditutup rapat, saya terakhir kesana dua pekan lalu. Karena sudah bercerai, saya datang hanya sampai di ruang tamu saja, setelah memberi kebutuhan anak-anak, saya pulang lagi,” cerita RM.

Seiring perjalanan waktu, RM khawatir dengan masa depan ketiga putrinya yang tak boleh bersekolah. Ia pun mengadu kepada kepala desa soal dugaan pengurungan itu. “Saya sampaikan ke desa, saya prihatin kenapa dikurung begitu dan tak boleh sekolah,” ujarnya.

Namun RM masih membela sang mantan istri dengan mengatakan yang terjadi sebenarnya bukanlah penyekapan. “Sebenarnya bukan disekap, yang artinya dikurung dalam satu ruangan. Tapi hanya tidak boleh keluar rumah. Kalau makan minum masih diberikan, kalau keluar harus bersama ibunya, tapi belum tentu setiap hari,” tutur RM.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *